Like he is my friend in the first place. Hahaha.
Hello, liburan! Bagaimana seharusnya aku mengejar ketertinggalan banyak hal selama setahun belakangan? Wahaha. Rasanya setahun nonstop kegiatan kuliah tanpa jeda (well, KKN bisa dibilang jeda sih but, yeah, all we need is a home to rest) itu… ya gitu. Kalo diinget-inget apa aja yang dikerjain selama setahun itu ya… pada dasarnya sama kaya yang dikerjain saat liburan. Lebih banyak tidur dan main, cuma liburan kadar tidur dan mainnya super banyak aja. Note that! Super. Banyak. Aja.
Anyway, I’ve been using English lately thanks to the thing finally I got to do: catch up with thingss… bukan prioritas dan ngga bisa dibilang penting banget, makanya dikesampingkan selama setahun kemarin karena bahaya. Bahaya makin parah pengalihannya untuk menjalani sedikit-belajar-banyak-denial :”. Harusnya sih ngga gitu-gitu banget, tapi mungkin prinsip Gai-sensei tentang aturan pribadi berlaku juga di aku.
See? I’m talking about Naruto, the long-lasting manga that finally end September last year.
Pertama kali kecantol baca komik waktu SMP dan selama langganan di tempat rental komik yang cuma bertahan sampai awal SMA, berbagai macam komik udah pernah dibaca (walaupun mungkin sekarang cuma inget judulnya dan agak lupa sama jalan ceritanya). Some of the best I remember are Prince of Tennis, Naruto, Happy Cafe, +Anima, Detective Loki Ragnarok, Slam Dunk etc I can continue forever. Dua judul pertama, Prince of Tennis dan Naruto itu komik serial yang lumayan banyak (tapi katanya PoT udah kelar lebih dulu dibanding Naruto) dan jujur aja, nungguin Happy Cafe yang cuma belasan aja ngga sabar apalagi nungguin Naruto yang sampai akhir era baca komik selesai belum juga ada ujung ceritanya. Alhasil, ketika yang lain masih sering ngomongin Akatsuki dan betapa lucunya Zetsu dengan keingintahuannya akan gimana rasanya buang air, aku udah lama mengesampingkan itu dan memutuskan nerusin baca Naruto ketika dia udah selesai aja. Mungkin karena alasan itu, aku ngga tertarik baca One Piece.
Dan lewat medsos tahun lalu I got updates that finally the saga was over, Like, okay, finally I can catch up but… not now. Sedih? Sedikit. Tapi sesuatu yang dikesampingkan pada akhirnya akan dihadapkan lagi pada waktunya. Tadi malam akhirnya selesai memenuhi keingintahuan tentang apa saja yang sudah terjadi di dunia shinobi dan bagaimana akhirnya Naruto jadi Nanadaime (karena spoiler tidak bisa ditepis, bertebaran dimana-mana).

Summary? Cool! I did both read the manga online and watch the Naruto Shippuden series, dan dua-duanya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan paling ngeselin dari nonton adalah, despite all the thrilling sfx it got to fully support the show, cerita sampingan dan flashbacks yang terus menerus ditampilkan sangat sangat membosankan dan nyebelin. Like, hey, I knew already about how Obito got his Sharingan in the end of his ‘life’, how everyone thought about Naruto in their own fight, etc so come on! Get the main things done already! Dan kekurangan baca komiknya adalah pusing. Itu aja haha karena dari awal komik Naruto itu banyak ‘garis-garis’ yang bikin rame dan penuh, harus fokus untuk ngeliat sebenernya gambar utama di halaman itu apa (mungkin karena ngga ada warnanya juga). Tapi secara keseluruhan, epic!

Naruto memuat semua yang dibutuhkan untuk membuat alur yang epic: good fights, humor, a little bit of romance, sci-fi maybe (dengan semua eksperimen Orochimaru dan Kabuto yang membingungkan haha skip skip aja deh kalo udah ngomongin itu), tearsss a lot of tears on the way… dan membangun sistem shinobi dan chakra dari awal itu pasti susah dan hasilnya mindblowing banget. A man in the spiral mask that declare himself as Madara is Obito, and behind Obito is Madara, and Madara is just a puppet to Hogomoro’s brother trick to revive his mother, Kaguya (yang kayanya bagian dari cerita rakyat Jepang). Everyone was tricked! …dan Susanoo. Tameng chakra birunya clan Uchiha yang ngga abis-abis selalu mengingatkan kita akan ibu yang suka makan satenya bang bokir, if you know what I mean (or maybe it’s just me). And one thing is I never like Sasuke in the first place like, but Sasuke as a father is killing me. But why his daughter name has to be Sarada? Selada?
Syedih, another childhood story has left. Lima belas tahun loh ternyata… how can someone endure a life with a deadline every week for 15 years… It can only happen if its really something you like. Great one, thanks Masashi Kishimoto for a good story 🙂
Now it’s time for me to let go :”