Seven-years-worth

tumblr_me7iene2ov1r0cmwi

Wonder why it feels hard to let go? You still don’t know much about the thing you try to left behind. Once you try to know better, stop avoiding every piece of it, face it off; actually it becomes quite understandable that it is the right thing to end the knot between you and your mind trick: it never deserves the best of you anyway.

Advertisements

An hour agitation

Menutupi yang membuncah;
aku bohong jika bilang wajahku tak panas
dan mataku tak gatal untuk melirik
yang tak seharusnya kulakukan dua kali

Memoles muka yang berdenyut dengan tampang datar;
aku merasa kikuk dan gemetar
rasanya tak ada hal baik yang bisa kulakukan
karena bulan begitu jauh, bahkan sekedar untuk angan

Berdoa agar saat ini bertahan lebih lama;
adalah bohong. Tak satupun momen seperti ini
yang aku ingin lama bersamanya

Dudukku aneh
Ekspresiku tak menarik
Tatapanku panik mencari fokus
Bahkan napasku buruk

Waktu mustajab dikabulkannya doa pun datang;
dan aku bingung harus memanjatkan apa
di waktu yang sangat sempit - dan masih kikuk
yang terucap akhirnya adalah yang terlintas
dan hanya satu

Hari ini hanya satu permintaan yang kukirimkan pada Allah:
jagalah hatiku
jagalah hatiku
jagalah hatiku.

-16 Ramadhan 1436

Ramadhan mubarak everyone :)

 

Selamat Datang, Koas Menjelang!

Alhamdulillah. Sudah tiga setengah tahun sejak pertama kali menginjakan kaki di tanah rantau. Tiga setengah. Hukum yang selalu berlaku adalah terdengar lama saat dijalani, terlihat sebentar saat menengok ke belakang. Banyak hal yang terjadi, tapi dapat disimpulkan bahwa grafik kerajinan dari tahun pertama sampai tahun terakhir jelas terlihat menurun. Salah satu contohnya ya aktivitas di blog ini. Maklum, si empunya blog kebanyakan tidur atau nonton Running Man atau tidur atau main. Plus ngga punya paket modem.

Insya Allah satu tahun ke depan akan menghabiskan masa kepaniteraan klinik di kota lainnya di Lampung, yaitu Metro. Yeah. Perasaannya sekarang adalah… afraid yet excited. Takut… karena sampai detik ini masih berjalan-jalan dengan aktivitas aklimatisasi di kota baru, tanpa buka buku, dengan otak kosong dan sangat berasa oonnya. Berasa ngga tau apa-apa. Kalo koas itu debu di bawah keset, sekarang rasanya aku adalah… larva di bawah lantai keset? Imut-imut bloon gitu lah.

Banyak yang direncanakan, hal-hal yang ingin diperbaiki dari fase preklinik kemarin. Banyak yang ingin diraih, tapi seperti yang para hadirin sekalian sudah sejak lama pahami, si pemilik tulisan ini lebih jago berorasi mengenai rencananya daripada melaksanakan rencana itu sendiri. Tipe pejabat pemerintahan yang layak disoraki dan dihujat atas perilaku motorik, sensorik, dan neurobehavioral mulutnya. Menghujat diri sendiri, ya ya.

Dan insya Allah stase pertama di dunia baru ini adalah penyakit dalam. Stase mayor yang banyak tugas dan jaga malam adalah jaminan mutu. Deg-degan. Ku harus apaa ku angong ku ngga tau apa-apa lalalala…

Harus memantapkan niat banget. Yaa walaupun ngga sekeset sekarang, ke depannya aktivitas harian jadi seorang dokter itu ya begitu lah. Harus nikmati. Senyum dan jangan angong (karena kalo udah angong mukanya ngga kontrol, alhasil bakalan diliat kaya lagi ngga mood padahal cuma angong). And what is angong by the way? Cari sendiri ya, pe-er.

Daan ini lagu lucu parah enlighting my day with a little laughter that… it’s not that scary (in the end, as usual) –> Laporan jaga malam.

Hmm?

“Hmm? Pernah ya aku nulis kaya gini?”

Kira-kira begitu, selalu begitu, saat membuka ulang semua dokumen berekstensi .doc atau .docx di folder pribadi. Aneh, terkejut dengan tulisan sendiri. My kind of treasure.

Menyenja

“Entahlah.”

“Eeeh? Kenapa ‘entah’? Kukira dulu kau punya berbagai alasan dan menceritakannya padaku, menggebu-gebu!”

“Masa?”

“Iya, aku ingat.”

“Kau ingat?”

“Mm hm. Aku selalu ingat.”

Aku membuang pandangan ke arah jendela. Tampaknya lama sekali kami berbincang-bincang, cahaya matahari sudah tertutupi awan, gelap. Angin pun mulai menyelusupi kamarku.

“Yah… entah. Dulu mungkin… haha. Mungkin aku terlalu naïf, dulu..”

“Sekarang tidak, begitu?”. Aku beralih memandangnya untuk memastikan apakah pertanyaannya itu sejenis sarkasme atau bukan. Dia menatapku serius, dahinya berkerut, mata dan bibirnya membulat.

“Tidak tahu,” senyum terbentuk begitu saja di bibirku, hatiku bergetar. Tertawa. “Aku rasa jika lima tahun lagi pertanyaan yang sama ditanyakan lagi kepadaku, jawabannya tetap sama. ‘Aku yang dulu terlalu naïf.’ Entah kapan kenaifan ini akan hilang,”

“Jadi sekarang kau merasa tidak naïf?”

“Ah kau membuatku pusing.” Aku memutuskan langit sore itu pantas untuk diamati. Aku menjadikan tanganku bantal dan berbaring menghadap jendela.

“Katakan yang kau rasakan, Chi,” wajahnya tepat di atas wajahku. Matanya sangat bulat.

“Chi… kau tahu, namaku dieja ‘Kai’ dalam statistik,” aku terkikik.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Chi.” Nada bicaranya serius sekali. Yah, apa boleh buat.

“Aku hanya merasa… mmm, tidak pantas?” semakin kufokuskan mataku ke awan yang abu-abu, semakin terasa kabur penglihatanku. Hening. Ku lirik dia, nampaknya memang sore ini langit di jendelaku sangat menarik, seperti kembang api malam yang lalu.

Katak Malam Ramai, Aku Diam

Sekarang aku mengerti mengapa
dari sekian banyak binatang di dunia
yang dengan tubuhnya mendigdaya
kataklah yang muncul bersamanya


Bersama katak kau tak akan kesepian
katak selalu menyanyi kala malam
sedang malam adalah pemburu sepi
maka katak adalah pemecah sunyi


Yang lebih dulu menua suka mengenang
sedang aku masih muda
aku sudah tenggelam dalam kenangan
kehabisan napas di atas kaki, menyusuri jalan


Sedang jalanan masih pekat
dan aku masih tersesat
angin meniupkan selembar kertas
dan disitulah aku berakhir


Habislah juga rasa heranku
pada hiruk pikuk kota yang membeku
hati mereka mengambang di udara
karena tak ada katak yang bersuara

Catching Up with Naruto

Like he is my friend in the first place. Hahaha.

Hello, liburan! Bagaimana seharusnya aku mengejar ketertinggalan banyak hal selama setahun belakangan? Wahaha. Rasanya setahun nonstop kegiatan kuliah tanpa jeda (well, KKN bisa dibilang jeda sih but, yeah, all we need is a home to rest) itu… ya gitu. Kalo diinget-inget apa aja yang dikerjain selama setahun itu ya… pada dasarnya sama kaya yang dikerjain saat liburan. Lebih banyak tidur dan main, cuma liburan kadar tidur dan mainnya super banyak aja. Note that! Super. Banyak. Aja.

Anyway, I’ve been using English lately thanks to the thing finally I got to do: catch up with thingss… bukan prioritas dan ngga bisa dibilang penting banget, makanya dikesampingkan selama setahun kemarin karena bahaya. Bahaya makin parah pengalihannya untuk menjalani sedikit-belajar-banyak-denial :”. Harusnya sih ngga gitu-gitu banget, tapi mungkin prinsip Gai-sensei tentang aturan pribadi berlaku juga di aku.

See? I’m talking about Naruto, the long-lasting manga that finally end September last year.

Pertama kali kecantol baca komik waktu SMP dan selama langganan di tempat rental komik yang cuma bertahan sampai awal SMA, berbagai macam komik udah pernah dibaca (walaupun mungkin sekarang cuma inget judulnya dan agak lupa sama jalan ceritanya). Some of the best I remember are Prince of Tennis, Naruto, Happy Cafe, +Anima, Detective Loki Ragnarok, Slam Dunk etc I can continue forever. Dua judul pertama, Prince of Tennis dan Naruto itu komik serial yang lumayan banyak (tapi katanya PoT udah kelar lebih dulu dibanding Naruto) dan jujur aja, nungguin Happy Cafe yang cuma belasan aja ngga sabar apalagi nungguin Naruto yang sampai akhir era baca komik selesai belum juga ada ujung ceritanya. Alhasil, ketika yang lain masih sering ngomongin Akatsuki dan betapa lucunya Zetsu dengan keingintahuannya akan gimana rasanya buang air, aku udah lama mengesampingkan itu dan memutuskan nerusin baca Naruto ketika dia udah selesai aja. Mungkin karena alasan itu, aku ngga tertarik baca One Piece.

Dan lewat medsos tahun lalu I got updates that finally the saga was over, Like, okay, finally I can catch up but… not now. Sedih? Sedikit. Tapi sesuatu yang dikesampingkan pada akhirnya akan dihadapkan lagi pada waktunya. Tadi malam akhirnya selesai memenuhi keingintahuan tentang apa saja yang sudah terjadi di dunia shinobi dan bagaimana akhirnya Naruto jadi Nanadaime (karena spoiler tidak bisa ditepis, bertebaran dimana-mana).

naruto-5246231

Summary? Cool! I did both read the manga online and watch the Naruto Shippuden series, dan dua-duanya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan paling ngeselin dari nonton adalah, despite all the thrilling sfx it got to fully support the show, cerita sampingan dan flashbacks yang terus menerus ditampilkan sangat sangat membosankan dan nyebelin. Like, hey, I knew already about how Obito got his Sharingan in the end of his ‘life’, how everyone thought about Naruto in their own fight, etc so come on! Get the main things done already! Dan kekurangan baca komiknya adalah pusing. Itu aja haha karena dari awal komik Naruto itu banyak ‘garis-garis’ yang bikin rame dan penuh, harus fokus untuk ngeliat sebenernya gambar utama di halaman itu apa (mungkin karena ngga ada warnanya juga). Tapi secara keseluruhan, epic!

naruto-5234207

Naruto memuat semua yang dibutuhkan untuk membuat alur yang epic: good fights, humor, a little bit of romance, sci-fi maybe (dengan semua eksperimen Orochimaru dan Kabuto yang membingungkan haha skip skip aja deh kalo udah ngomongin itu), tearsss a lot of tears on the way… dan membangun sistem shinobi dan chakra dari awal itu pasti susah dan hasilnya mindblowing banget. A man in the spiral mask that declare himself as Madara is Obito, and behind Obito is Madara, and Madara is just a puppet to Hogomoro’s brother trick to revive his mother, Kaguya (yang kayanya bagian dari cerita rakyat Jepang). Everyone was tricked! …dan Susanoo. Tameng chakra birunya clan Uchiha yang ngga abis-abis selalu mengingatkan kita akan ibu yang suka makan satenya bang bokir, if you know what I mean (or maybe it’s just me). And one thing is I never like Sasuke in the first place like, but Sasuke as a father is killing me. But why his daughter name has to be Sarada? Selada?

Syedih, another childhood story has left. Lima belas tahun loh ternyata… how can someone endure a life with a deadline every week for 15 years… It can only happen if its really something you like. Great one, thanks Masashi Kishimoto for a good story 🙂

Now it’s time for me to let go :”

#1


Aku bisa bercerita panjang lebar tentangmu

tentangku dan perasaanku kepadamu

juga analisis-analisis penuh teori dan tebakan tentang kita


Namun saat kita bertemu ruang dan waktu

analisisku menjadi perban yang membebat mulutku

erat dan kaku


Aku yang tanpa kata

Aku yang tak bersuara


Pahamilah dingin yang kita rasakan adalah caraku bercerita

tentang hipotesis tak terujikan yang ku usulkan

kepada realita


Bahwa diam adalah evaluasi atas diriku

yang selalu begitu

karena eksistensi dirimu