Katak Malam Ramai, Aku Diam

Sekarang aku mengerti mengapa
dari sekian banyak binatang di dunia
yang dengan tubuhnya mendigdaya
kataklah yang muncul bersamanya


Bersama katak kau tak akan kesepian
katak selalu menyanyi kala malam
sedang malam adalah pemburu sepi
maka katak adalah pemecah sunyi


Yang lebih dulu menua suka mengenang
sedang aku masih muda
aku sudah tenggelam dalam kenangan
kehabisan napas di atas kaki, menyusuri jalan


Sedang jalanan masih pekat
dan aku masih tersesat
angin meniupkan selembar kertas
dan disitulah aku berakhir


Habislah juga rasa heranku
pada hiruk pikuk kota yang membeku
hati mereka mengambang di udara
karena tak ada katak yang bersuara

Iklan

Catching Up with Naruto

Like he is my friend in the first place. Hahaha.

Hello, liburan! Bagaimana seharusnya aku mengejar ketertinggalan banyak hal selama setahun belakangan? Wahaha. Rasanya setahun nonstop kegiatan kuliah tanpa jeda (well, KKN bisa dibilang jeda sih but, yeah, all we need is a home to rest) itu… ya gitu. Kalo diinget-inget apa aja yang dikerjain selama setahun itu ya… pada dasarnya sama kaya yang dikerjain saat liburan. Lebih banyak tidur dan main, cuma liburan kadar tidur dan mainnya super banyak aja. Note that! Super. Banyak. Aja.

Anyway, I’ve been using English lately thanks to the thing finally I got to do: catch up with thingss… bukan prioritas dan ngga bisa dibilang penting banget, makanya dikesampingkan selama setahun kemarin karena bahaya. Bahaya makin parah pengalihannya untuk menjalani sedikit-belajar-banyak-denial :”. Harusnya sih ngga gitu-gitu banget, tapi mungkin prinsip Gai-sensei tentang aturan pribadi berlaku juga di aku.

See? I’m talking about Naruto, the long-lasting manga that finally end September last year.

Pertama kali kecantol baca komik waktu SMP dan selama langganan di tempat rental komik yang cuma bertahan sampai awal SMA, berbagai macam komik udah pernah dibaca (walaupun mungkin sekarang cuma inget judulnya dan agak lupa sama jalan ceritanya). Some of the best I remember are Prince of Tennis, Naruto, Happy Cafe, +Anima, Detective Loki Ragnarok, Slam Dunk etc I can continue forever. Dua judul pertama, Prince of Tennis dan Naruto itu komik serial yang lumayan banyak (tapi katanya PoT udah kelar lebih dulu dibanding Naruto) dan jujur aja, nungguin Happy Cafe yang cuma belasan aja ngga sabar apalagi nungguin Naruto yang sampai akhir era baca komik selesai belum juga ada ujung ceritanya. Alhasil, ketika yang lain masih sering ngomongin Akatsuki dan betapa lucunya Zetsu dengan keingintahuannya akan gimana rasanya buang air, aku udah lama mengesampingkan itu dan memutuskan nerusin baca Naruto ketika dia udah selesai aja. Mungkin karena alasan itu, aku ngga tertarik baca One Piece.

Dan lewat medsos tahun lalu I got updates that finally the saga was over, Like, okay, finally I can catch up but… not now. Sedih? Sedikit. Tapi sesuatu yang dikesampingkan pada akhirnya akan dihadapkan lagi pada waktunya. Tadi malam akhirnya selesai memenuhi keingintahuan tentang apa saja yang sudah terjadi di dunia shinobi dan bagaimana akhirnya Naruto jadi Nanadaime (karena spoiler tidak bisa ditepis, bertebaran dimana-mana).

naruto-5246231

Summary? Cool! I did both read the manga online and watch the Naruto Shippuden series, dan dua-duanya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan paling ngeselin dari nonton adalah, despite all the thrilling sfx it got to fully support the show, cerita sampingan dan flashbacks yang terus menerus ditampilkan sangat sangat membosankan dan nyebelin. Like, hey, I knew already about how Obito got his Sharingan in the end of his ‘life’, how everyone thought about Naruto in their own fight, etc so come on! Get the main things done already! Dan kekurangan baca komiknya adalah pusing. Itu aja haha karena dari awal komik Naruto itu banyak ‘garis-garis’ yang bikin rame dan penuh, harus fokus untuk ngeliat sebenernya gambar utama di halaman itu apa (mungkin karena ngga ada warnanya juga). Tapi secara keseluruhan, epic!

naruto-5234207

Naruto memuat semua yang dibutuhkan untuk membuat alur yang epic: good fights, humor, a little bit of romance, sci-fi maybe (dengan semua eksperimen Orochimaru dan Kabuto yang membingungkan haha skip skip aja deh kalo udah ngomongin itu), tearsss a lot of tears on the way… dan membangun sistem shinobi dan chakra dari awal itu pasti susah dan hasilnya mindblowing banget. A man in the spiral mask that declare himself as Madara is Obito, and behind Obito is Madara, and Madara is just a puppet to Hogomoro’s brother trick to revive his mother, Kaguya (yang kayanya bagian dari cerita rakyat Jepang). Everyone was tricked! …dan Susanoo. Tameng chakra birunya clan Uchiha yang ngga abis-abis selalu mengingatkan kita akan ibu yang suka makan satenya bang bokir, if you know what I mean (or maybe it’s just me). And one thing is I never like Sasuke in the first place like, but Sasuke as a father is killing me. But why his daughter name has to be Sarada? Selada?

Syedih, another childhood story has left. Lima belas tahun loh ternyata… how can someone endure a life with a deadline every week for 15 years… It can only happen if its really something you like. Great one, thanks Masashi Kishimoto for a good story 🙂

Now it’s time for me to let go :”

#1


Aku bisa bercerita panjang lebar tentangmu

tentangku dan perasaanku kepadamu

juga analisis-analisis penuh teori dan tebakan tentang kita


Namun saat kita bertemu ruang dan waktu

analisisku menjadi perban yang membebat mulutku

erat dan kaku


Aku yang tanpa kata

Aku yang tak bersuara


Pahamilah dingin yang kita rasakan adalah caraku bercerita

tentang hipotesis tak terujikan yang ku usulkan

kepada realita


Bahwa diam adalah evaluasi atas diriku

yang selalu begitu

karena eksistensi dirimu

The thank you returner and the sorry begger

tumblr_m94fh5HzFX1r08qs8o1_500

Salahkan hembusan angin yang selalu berada di sampingmu saat berjalan
karenanya, mataku tak lepas dari dirimu
Salahkan angin yang tak berwarna, tak berbau, tak berwujud
karena mencarinya, aku selalu kedapatan memandang lekat dirimu


Atau, bisa saja kau salahkan diriku
agar aku bisa meminta maaf dan memulai semuanya dari “maaf”
dengan “Maaf, aku tak sengaja termenung saat tak sengaja memandangmu”


Mungkin dengan ketidaksengajaan itu
saat ini yang kudapati dari bibirmu adalah kata yang berbeda
Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan selanjutnya
Aku hanya ingin waktu membiarkan aku mengatakan kata itu, maaf, untukmu


Karena “terima kasih” begitu mengecewakan bagiku
Karena “terima kasih” bukanlah kata yang ingin aku dengar darimu
Bisakah sekali saja kau mengucapkan hal lain saat aku membantumu menyebrang jalan?
Bisakah sekali saja kau berkata “ah, bagaimana kau tahu…” saat aku membawakan bukumu yang tertinggal di kelas
Bisakah sekali, hanya sekali, kau tidak mengatakan apa-apa saat aku bertemu denganmu?

Maaf, terima kasih. Tak bisakah kita bertukar kata lain?

Orang Ketiga Serba Ingin Tahu

tumblr_linetdmNqm1qzcq51o1_500

Dua orang berdiri berhadapan. Dipisahkan oleh jarak dan orang-orang yang lalu lalang, kedua mata mereka saling bertemu. Suara kendaraan dan derap pejalan kaki buyar oleh detak jantung masing-masing. Detak jantung yang memekakan telinga, detak jantung yang melumpuhkan ekstrimitas, detak jantung yang lama tak memegang kendali, detak jantung yang dulu.

Dua orang berdiri berhadapan. Dipisahkan oleh jalan dua arah, momen saat itu terasa seperti momen yang pertama kali. Sepersekian detik momen itu berlangsung, hanya sepersekian detik. Sepersekian detik yang menguras emosi dan membanjiri hati dengan nostalgia. Tersenyum ramah, tertawa jengkel, tertawa jenaka, mengomel bahagia, terdiam, tersentuh, sedih, air mata yang jatuh, suara yang bergetar, cemas yang melanda, kesal karena ketidakpastian, kecurigaan, kemarahan, dan hening. Hening yang begitu lama. Hening yang akhirnya memisahkan. Dan hening juga yang mengawali pertemuan kembali kedua orang itu.

Dua orang berdiri berhadapan. Penuh harap, seperti dulu. Pun penuh ketidakpastian, seperti dulu. Siapakah yang akan lebih dulu melempar senyum, siapakah yang akan lebih dulu melambaikan tangan, siapakah yang akan lebih dulu meneriakkan nama yang lain, siapakah yang akan lebih dulu memberanikan diri menyebrangi jalan dan memulai percakapan di dalam kedai kopi. Akhir yang bahagia. Atau, siapakah yang akan lebih dulu menyudahi pandangan mata, siapakah yang akan lebih dulu pura-pura tidak melihat, siapakah yang akan lebih dulu berbalik arah dan melewatkan kesempatan memperpendek jarak di antara mereka. Masihkan akan seperti dulu?

Dua orang berdiri berhadapan. Salah satu dari mereka telah memegang kesimpulan dalam hatinya, kesimpulan yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk keluar dari tirai yang jelas adanya namun selalu enggan untuk disibak. Rasa ingin tahu, curiousity. Dan kesimpulan itulah yang membuat dirinya gamang. Dalam pikirnya, keingintahuan tidaklah mungkin membuat mereka bersepakat, bertemu lalu memulai kembali hubungan yang lebih baik. Karena ketika suatu saat tidak ada lagi yang dapat memuaskan rasa ingin tahu itu, ketika semua fakta telah terungkap, maka tak ada alasan lagi bagi mereka untuk berbincang. Karena alasan mereka berbincang semalam suntuk adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu masing-masing.

Salah satu dari mereka mencoba logis sementara keadaan dirinya sendiri sangatlah tidak masuk akal: sesungguhnya emosi abstrak yang ia rasakan setiap kali mereka bertatap mukalah yang membuatnya tetap tak bergerak. Perasaan, lagi-lagi, menguasai dirinya. Apalah kesimpulan ini, pikirnya, sementara aku disini, menatapnya di antara keramaian, menatapnya lagi, setelah bertahun-tahun dalam beberapa kesempatan ia hanya dapat menatapnya di dalam mimpi, terengah-engah di pagi harinya lalu melupakannya semudah ia berjalan ke kamar mandi. Sungguh, inilah mimpi yang menjadi kenyataan.

Dua orang berdiri berhadapan. Tanpa ekspresi, tanpa suara. Ketika akhirnya dua orang ini berdiri berhadapan, sampai akhirnya dua orang ini berdiri berhadapan, saya hanyalah orang ketiga serba ingin tahu. Saya ingin tahu, apa yang akan terjadi setelah sepersekian detik mereka bertemu pandang secara tidak sengaja. Saya ingin tahu, apakah hal tersebut bahkan akan terjadi. Apakah selamanya saya hanya akan menjadi orang ketiga serba ingin tahu?

Kutipan

:*

“I’m the one person that still waiting. I’m the only one that got hurt. I’m the only one that still can’t forget about my own event and I got ‘fool’ feeling about it. Just… Let it becomes the barrier between us. The footprint that hard to erase.” – wind.

Untukmu, yang Menyebrangi Dunia

Image

Saat melihatnya dari kejauhan

Aku selalu bertanya dalam hati

Tidakkah dia merasa kesepian?

 

Seorang diri membelah lautan hitam pekat yang coba ia ramaikan dengan petromaksnya

Laut di malam hari yang menciutkan nyali siapapun yang membayangkannya

Laut yang membuatmu rikuh dengan suara detak jantungmu sendiri karena sunyi senyapnya

Laut yang membuatmu awas dan waspada dengan tarian gelombangnya

 

Apa yang ia pikirkan selagi menebar jala di tengah sana? Apa yang ia rasakan?

Takutkah? Bersemangat? Sedih? Atau malah gembira?

Aku tak bisa mengatakannya dari raut wajahnya

Tak terlihat sebersit emosi yang bisa aku baca dengan jelas

 

Alih-alih bertanya padanya, aku bertanya pada diriku sendiri

Takutkah aku? Adakah semangatku? Tenggelamkah aku dalam kesedihan?

Sedangkan dia yang selalu aku kagumi sama sekali tak menunjukkan kesemuanya

Hanya buncahan emosi tak jelas yang bergemuruh saat ini

 

Apa yang ia lakukan saat semua orang tak ada lagi yang menggantungkan diri di laut?

Apa yang ia lakukan di kesendiriannya?

Apa yang ia harapkan dari ikan-ikan kecil yang tak seberapa harganya?

Ingin rasanya aku menepuk bahunya untuk menyatakan ‘aku turut merasakannya’

 

Tapi aku tak benar-benar merasakannya, maka aku urungkan niatku

Ingin rasanya aku menampar masa laluku

Aku hanya berdiri menatapnya dari kejauhan hingga ia mendekat ke tepian

Dan membiarkan cemoohan terhadapnya jadi makanan telingaku sehari-hari

Tanpa diriku bergeming, sekedar menatap sinis pun tidak

 

Dan sekarang ketika aku merasakan sedikit perasaannya selama ini

Aku tak tahu harus menyapanya bagaimana

Maafkan aku yang tak tahu cara berdiri untukmu

Biarkan aku tenggelam bersama kesendirianmu, agar kau tahu kau tidak sendiri

Agar yang tidak kau tahu, menua bersamamu.