The thank you returner and the sorry begger

tumblr_m94fh5HzFX1r08qs8o1_500

Salahkan hembusan angin yang selalu berada di sampingmu saat berjalan
karenanya, mataku tak lepas dari dirimu
Salahkan angin yang tak berwarna, tak berbau, tak berwujud
karena mencarinya, aku selalu kedapatan memandang lekat dirimu


Atau, bisa saja kau salahkan diriku
agar aku bisa meminta maaf dan memulai semuanya dari “maaf”
dengan “Maaf, aku tak sengaja termenung saat tak sengaja memandangmu”


Mungkin dengan ketidaksengajaan itu
saat ini yang kudapati dari bibirmu adalah kata yang berbeda
Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan selanjutnya
Aku hanya ingin waktu membiarkan aku mengatakan kata itu, maaf, untukmu


Karena “terima kasih” begitu mengecewakan bagiku
Karena “terima kasih” bukanlah kata yang ingin aku dengar darimu
Bisakah sekali saja kau mengucapkan hal lain saat aku membantumu menyebrang jalan?
Bisakah sekali saja kau berkata “ah, bagaimana kau tahu…” saat aku membawakan bukumu yang tertinggal di kelas
Bisakah sekali, hanya sekali, kau tidak mengatakan apa-apa saat aku bertemu denganmu?

Maaf, terima kasih. Tak bisakah kita bertukar kata lain?

Orang Ketiga Serba Ingin Tahu

tumblr_linetdmNqm1qzcq51o1_500

Dua orang berdiri berhadapan. Dipisahkan oleh jarak dan orang-orang yang lalu lalang, kedua mata mereka saling bertemu. Suara kendaraan dan derap pejalan kaki buyar oleh detak jantung masing-masing. Detak jantung yang memekakan telinga, detak jantung yang melumpuhkan ekstrimitas, detak jantung yang lama tak memegang kendali, detak jantung yang dulu.

Dua orang berdiri berhadapan. Dipisahkan oleh jalan dua arah, momen saat itu terasa seperti momen yang pertama kali. Sepersekian detik momen itu berlangsung, hanya sepersekian detik. Sepersekian detik yang menguras emosi dan membanjiri hati dengan nostalgia. Tersenyum ramah, tertawa jengkel, tertawa jenaka, mengomel bahagia, terdiam, tersentuh, sedih, air mata yang jatuh, suara yang bergetar, cemas yang melanda, kesal karena ketidakpastian, kecurigaan, kemarahan, dan hening. Hening yang begitu lama. Hening yang akhirnya memisahkan. Dan hening juga yang mengawali pertemuan kembali kedua orang itu.

Dua orang berdiri berhadapan. Penuh harap, seperti dulu. Pun penuh ketidakpastian, seperti dulu. Siapakah yang akan lebih dulu melempar senyum, siapakah yang akan lebih dulu melambaikan tangan, siapakah yang akan lebih dulu meneriakkan nama yang lain, siapakah yang akan lebih dulu memberanikan diri menyebrangi jalan dan memulai percakapan di dalam kedai kopi. Akhir yang bahagia. Atau, siapakah yang akan lebih dulu menyudahi pandangan mata, siapakah yang akan lebih dulu pura-pura tidak melihat, siapakah yang akan lebih dulu berbalik arah dan melewatkan kesempatan memperpendek jarak di antara mereka. Masihkan akan seperti dulu?

Dua orang berdiri berhadapan. Salah satu dari mereka telah memegang kesimpulan dalam hatinya, kesimpulan yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk keluar dari tirai yang jelas adanya namun selalu enggan untuk disibak. Rasa ingin tahu, curiousity. Dan kesimpulan itulah yang membuat dirinya gamang. Dalam pikirnya, keingintahuan tidaklah mungkin membuat mereka bersepakat, bertemu lalu memulai kembali hubungan yang lebih baik. Karena ketika suatu saat tidak ada lagi yang dapat memuaskan rasa ingin tahu itu, ketika semua fakta telah terungkap, maka tak ada alasan lagi bagi mereka untuk berbincang. Karena alasan mereka berbincang semalam suntuk adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu masing-masing.

Salah satu dari mereka mencoba logis sementara keadaan dirinya sendiri sangatlah tidak masuk akal: sesungguhnya emosi abstrak yang ia rasakan setiap kali mereka bertatap mukalah yang membuatnya tetap tak bergerak. Perasaan, lagi-lagi, menguasai dirinya. Apalah kesimpulan ini, pikirnya, sementara aku disini, menatapnya di antara keramaian, menatapnya lagi, setelah bertahun-tahun dalam beberapa kesempatan ia hanya dapat menatapnya di dalam mimpi, terengah-engah di pagi harinya lalu melupakannya semudah ia berjalan ke kamar mandi. Sungguh, inilah mimpi yang menjadi kenyataan.

Dua orang berdiri berhadapan. Tanpa ekspresi, tanpa suara. Ketika akhirnya dua orang ini berdiri berhadapan, sampai akhirnya dua orang ini berdiri berhadapan, saya hanyalah orang ketiga serba ingin tahu. Saya ingin tahu, apa yang akan terjadi setelah sepersekian detik mereka bertemu pandang secara tidak sengaja. Saya ingin tahu, apakah hal tersebut bahkan akan terjadi. Apakah selamanya saya hanya akan menjadi orang ketiga serba ingin tahu?

:*

“I’m the one person that still waiting. I’m the only one that got hurt. I’m the only one that still can’t forget about my own event and I got ‘fool’ feeling about it. Just… Let it becomes the barrier between us. The footprint that hard to erase.” – wind.

Untukmu, yang Menyebrangi Dunia

Image

Saat melihatnya dari kejauhan

Aku selalu bertanya dalam hati

Tidakkah dia merasa kesepian?

 

Seorang diri membelah lautan hitam pekat yang coba ia ramaikan dengan petromaksnya

Laut di malam hari yang menciutkan nyali siapapun yang membayangkannya

Laut yang membuatmu rikuh dengan suara detak jantungmu sendiri karena sunyi senyapnya

Laut yang membuatmu awas dan waspada dengan tarian gelombangnya

 

Apa yang ia pikirkan selagi menebar jala di tengah sana? Apa yang ia rasakan?

Takutkah? Bersemangat? Sedih? Atau malah gembira?

Aku tak bisa mengatakannya dari raut wajahnya

Tak terlihat sebersit emosi yang bisa aku baca dengan jelas

 

Alih-alih bertanya padanya, aku bertanya pada diriku sendiri

Takutkah aku? Adakah semangatku? Tenggelamkah aku dalam kesedihan?

Sedangkan dia yang selalu aku kagumi sama sekali tak menunjukkan kesemuanya

Hanya buncahan emosi tak jelas yang bergemuruh saat ini

 

Apa yang ia lakukan saat semua orang tak ada lagi yang menggantungkan diri di laut?

Apa yang ia lakukan di kesendiriannya?

Apa yang ia harapkan dari ikan-ikan kecil yang tak seberapa harganya?

Ingin rasanya aku menepuk bahunya untuk menyatakan ‘aku turut merasakannya’

 

Tapi aku tak benar-benar merasakannya, maka aku urungkan niatku

Ingin rasanya aku menampar masa laluku

Aku hanya berdiri menatapnya dari kejauhan hingga ia mendekat ke tepian

Dan membiarkan cemoohan terhadapnya jadi makanan telingaku sehari-hari

Tanpa diriku bergeming, sekedar menatap sinis pun tidak

 

Dan sekarang ketika aku merasakan sedikit perasaannya selama ini

Aku tak tahu harus menyapanya bagaimana

Maafkan aku yang tak tahu cara berdiri untukmu

Biarkan aku tenggelam bersama kesendirianmu, agar kau tahu kau tidak sendiri

Agar yang tidak kau tahu, menua bersamamu.

Muscina 2014: Menjadi Muslimah Sejati (Challenge Project FLP Wilayah Lampung)

Bertempat di Gedung C Lantai 3 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, pada hari Sabtu (29/03/14) kemarin telah dilaksanakan sebuah seminar kemuslimahan bernama MUSCINA (Muslimah Cantik aLa Ibnu Sina) 2014. Acara yang mengusung tema Sebaik-baik Perhiasan Dunia, Semulia Bidadari Syurga ini merupakan program tahunan yang dibuat oleh Bidang Keputrian Forum Studi Islam (FSI) Ibnu Sina FK Unila. Seminar MUSCINA membidik target seluruh mahasiswa muslimah di Bandar Lampung, khususnya muslimah di lingkungan Fakultas Kedokteran.

Image

Seminar ini menyuguhkan tiga materi kemuslimahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri seorang muslimah mulai dari segi kesehatan, life skill, kreatifitas, dan yang tak kalah penting keimanan dan kepatuhan diri dalam menjalankan syariat agama. Ketiga materi tersebut diisi masing-masing oleh dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG, tim penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Lampung, dan  representasi dari gerakan nasional @PeduliJilbab.

Seminar MUSCINA dibuka pada pukul 08.30 yang dipandu oleh pembawa acara Gemayang Sura dan Lana Asfaradilla. Pada rangkaian pembukaan ini, dekan Fakultas Kedokteran, Bapak Sutyarso, M.Biomed berkesempatan menyempatkan waktunya untuk membuka MUSCINA 2014 dan memberikan wejangan-wejangan terkait acara ini. Selain itu, ketua umum FSI Ibnu Sina periode 2013-2014, Gulbuddin Hikmatyar, juga hadir memberikan sambutan. Setelah acara resmi dibuka, rangkaian pembukaan MUSCINA 2014 ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Diah Ayu Larasati.

Setelah sesi pertama oleh dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG selesai disampaikan dengan apik dan menarik, sesi kedua oleh FLP Wilayah Lampung juga dibawakan dengan tidak kalah menarik. Sesi ini dibawakan dengan gaya talkshow yang dipandu oleh Nora Ramkita, dokter muda FK Unila. Pada kesempatan ini, FLP Wilayah Lampung diwakili oleh ketuanya sendiri yaitu Naqiyyah Syam dan bendahara FLP Wilayah Lampung sekaligus anggota FLP Australia yaitu Maya Uspasari. Talkshow yang bertajuk “Muslimah Produktif dengan Menulis” ini dibuka dengan perkenalan dari kedua narasumber. Naqiyyah Syam merupakan nama pena dari Sri Rahayu, S.Hut. Ia lebih dikenal dengan nama penanya sehingga lebih sering dipanggil ‘Mba Naqi’. Mba Naqi yang sudah menerbitkan sejumlah buku ini merupakan ketua FLP Wilayah Lampung. Mba Naqi menceritakan sewaktu masih kecil dirinya mengalami kesulitan membaca. Berbagai macam buku bacaan dibelikan kedua orang tua Mba Naqi untuk meningkatkan minat bacanya. Baru kemudian Mba Naqi kecil dapat membaca pada saat duduk di kelas 4 SD. Selang waktu antara saat itu sampai saat Mba Naqi menjadi mahasiswa, berbagai kegiatan ditekuninya, salah satunya menari. Hingga ketika memutuskan untuk hijrah saat duduk di bangku kuliah, Mba Naqi mencari kegiatan lain untuk menyalurkan bakat seninya. Ia lalu mencoba menjadi jurnalis kampus dan akhirnya menemukan passion di dunia tulis menulis.

Sedangkan Maya Uspasari yang akrab disapa Maya ini bergabung dengan FLP Australia awalnya karena mengikuti suami mengenyam pendidikan di Australia. Paparan pertamanya dengan FLP Australia adalah lewat acara yang diikutinya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Australia yang menghadirkan Kang Abik, nama akrab dari penulis buku best seller Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El-Shirazy. Saat ini Mba Maya sudah memiliki 4 buku antologi yang ditulis bersama koresponden lainnya.

Image

Setelah perkenalan dengan narasumber, talkshow dilanjutkan dengan pemutaran video perkenalan FLP Wilayah Lampung yang berisi sejarah dan beraneka kegiatan yang telah dan rutin dilakukan oleh FLP Wilayah Lampung. Berikutnya, Mba Naqi dan Mba Maya memaparkan alasan mereka menulis dan urgensi dari menulis, media apa yang dapat menjadi pilihan untuk menulis dan melatih skill menulis, hal-hal apa saja yang dapat dituangkan dalam tulisan, dan lain sebagainya.

Tanya jawab yang dipandu oleh moderator kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan peserta. Antusias peserta yang tinggi di sesi ini menghasilkan berbagai macam pertanyaan seputar kepenulisan, seperti bagaimana cara meluangkan dan membiasakan waktu untuk menulis, bagaimana memulai untuk menulis ketika sudah hobi membaca, bagaimana menumbuhkan semangat dalam setiap tulisan, bagaimana menghadirkan kebermanfaatan dalam setiap tulisan dan berbagai pertanyaan lainnya. Setiap pertanyaan dijawab oleh Mba Naqi dan Mba Maya dengan lugas dan memuaskan. Kedua narasumber ini memasukkan berbagai pengalaman kepenulisan mereka dan feedback yang membangun dalam setiap jawaban mereka. Talkshow pun berlangsung santai dan menyenangkan dengan beberapa jokes ringan yang dilemparkan narasumber.

Dari sesi tanya jawab dengan peserta, didapatkan kesimpulan bahwa inti dari menulis adalah konsistensi, karena tulisan yang matang dan berkarakter muncul dari latihan terus menerus. Selain itu, menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca dan untuk memberikan mengisi kembali semangat menulis salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan membaca. Bergabung dengan suatu komunitas menulis juga dapat memacu semangat untuk menulis, pun melihat buku-buku karangan teman-teman satu kelompok yang sudah naik cetak dan nongkrong di rak toko buku. Media untuk pembiasaan menulis pun diserahkan kepada individu masing-masing, tetapi Mba Naqi dan Mba Maya menyarankan blog sebagai media yang cukup baik untuk mengasah kemampuan menulis.

Sesi dua seminar kemuslimahan ini pun ditutup dengan pemberian cinderamata untuk FLP Wilayah Lampung dan kedua narasumber yaitu Mba Naqi dan Mba Maya oleh Ketua Pelaksana MUSCINA 2014, Sartika Safitri. Tak lupa enam orang peserta yang bertanya di sesi tanya jawab diberikan door prize berupa goody bag dari Wardah, sponsor resmi MUSCINA 2014.

Menyusul materi “Muslimah Produktif dengan Menulis”, Amalia Dian Rahmadhin, founder gerakan nasional Peduli Jilbab, menyampaikan materi “Beauty Start from Syar’I” yang penuh haru dan semangat.

Semoga seminar MUSCINA 2014 dapat memberikan dampak positif bagi peserta dan juga  panitia, bahwa cantik tidak hanya dilihat dari tampilan luar saja, melainkan keseluruhan aspek dari seorang muslimah, termasuk aspek vertikal hablumminAllah.

 

Bandar Lampung, 1 April 2014

Idzni 

Pengurus FSI Ibnu Sina FK Unila

Some Words I Really Want To Hear Come From Here

These days, I spend lot of my time wander around in Youtube, searching some interesting artworks or simply some funny videos, just to kill the time and fulfill my curiosity (plus, gather some new ideas). And I always have this feeling every time I decide the right video: touched. And one of the video is this interview with Gong-yoo, whose popularity rocketing with Coffee Prince (I don’t watch the drama though). I don’t have any idea why this video appear so sudden and why I decided to watch, but I watched. And… I don’t know why I followed this interview until the end. I mean, I know Gong-yoo but, so so. Well, I’ve watched Dogani (accidentally though) and my anger arose when got in touch with that movie again but the rest, about his life, I didn’t care that much to listen ’til the end. But somehow I really like the way he described his feelings. I can’t say I begin to love Gong-yoo or something, I just like this interview. Great actor, great interviewer. Love this.

Suara yang Bergaung

Sebuah suara bergaung di ruangan hampa udara

Ketika dia berhenti, seseorang kembali memulainya

Keempat dinding ruangan mulai retak

Tapi hanya retak, tidak benar-benar rata bebas hampa

 

Sebuah suara bergaung di ruangan yang mengambang

Mengkompresi hati yang kian bergenderang

Mempertahankan kelembaman yang terus menyarang

Diam bersama getaran, tetap bergerak bersama gelombang

 

Ketika sebuah suara bergaung di ruangan

Seketika gorong-gorong udara menutup celahnya

Menghancurkan aliran kata-kata yang seirama

Menutup segala kemungkinan, harapan

 

Seseorang di dalam ruangan itu pasti tahu

Segala hal yang terjadi setelah gaungan sengaja diulang

Tapi rongga udara yang menutup, begitu mendesak

Dan kita setuju pada satu hal: yang dapat dilakukan hanya

meneruskan suara ke tempat dia seharusnya didengar

 

11:29, I’m just making a nonsense.

 

 

After ‘Never Let Me Go’

Dulu, waktu masih SMA, liburan akhir semester adalah suatu jeda yang paling ditunggu-tunggu, melebihi week-end yang tiba-tiba kosong agenda. Sama keadaannya seperti sekarang – aku tanya, siapa yang tidak menunggu datangnya liburan? Hampir tidak ada. Kecuali yang sangat mencintai kuliah dan organisasi dan orang-orang di dalamnya melebihi keluarga kecil di rumah yang hangat, bergelung di bawah selimut menikmati suara hujan dan diam-diam berharap suara itu tidak akan berhenti sampai masing-masing dari kita terlelap sempurna. Well, aku belum sampai tahap itu dengan semuanya, jadi ya, aku menunggu liburan lebih dari apapun. Sebagian dari diriku berharap masa-masa sebelum liburan – ujian akhir – akan lewat seakan tak pernah ada dan sebagian berharap ujian itu berlangsung dengan baik dan memuaskan. Yah, tapi bukan ini yang benar-benar ingin aku bicarakan.

Continue reading “After ‘Never Let Me Go’”

Sweet Escape 2: Statement Positif

Ya. Sesuatu semacam postingan kemarin memang tidak layak dibiarkan menggantung lama-lama. Maka, di penghujung hari yang dihujani berkah ini saya akan menyatakan statement positif. 

Passion.

Tidak harus mencuri-curi waktu untuk melakukannya. Karena dia passion, kau tahu, sesuatu yang membuat ragamu menghidupi hari-hari menantang yang menjelang. Dan karena aku yang memilih meninggalkan opsi menekuni passion-ku di tempat lain, maka inilah konsekuensinya.

Benar adanya, fokus pada track hidup yang sekarang itu harus. Tapi belakangan aku sadar, sembari menunggu semuanya melembut dan berubah menjadi suatu aliran darah yang terasa mengakar dan biasa (yang entah kapan), passion yang sudah terlebih dahulu menghidupiku akan terus menjadi tenagaku. Suatu kekuatan yang senantiasa mendorongku untuk tetap maju. Membaca, specifically, buku-buku fiksi, non-fiksi, dan lainnya, yang memperkaya, memang agak sulit. Tapi agaknya jika manajemen waktuku baik hal itu bukan tidak mungkin dilakukan secara kontinyu. Menulis? Aku bisa melakukannya kapanpun. Boleh lah aku menyebutnya pelarian, tempat aku istirahat sejenak, bukan untuk berhenti, tapi untuk berjalan lagi bahkan berlari.

Semuanya mungkin. Harus mungkin. Karena lebih jauh aku merencanakan yang lebih luar biasa daripada ini, sebuah kombinasi menyenangkan yang sama sekali tidak memikirkan berbagai situasi menegangkan yang akan terjadi. Haha. Dan ini membutuhkan pembiasaan. Sekaranglah saatnya membiasakan kehidupan masa datang itu, yang menyenangkan.

Karena aku yang memilih jadi aku harus mengusahakan semuanya agar tetap mungkin, possible.

Haha. Anehnya aku mulai merasa ini agak berat. Hamasah!